NU Didirikan Ulama Ahli Hadits, Tapi Dibid’ahkan Orang Hafal Satu Hadits

NU Didirikan Ulama Ahli Hadits, Tapi Dibid’ahkan Orang Hafal Satu Hadits

Abdullah, NU Online | Kamis, 27 Desember 2018 02:00

Jakarta, NU Online 

KH Ahmad Muwafiq mengatakan nahdlatul ulama (NU) didirikan oleh ahli hadits yaitu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Ia memiliki sanda keilmuan yang jelas terhubung kepada Rasulullah shallallahu alaihi was salam melalui para gurunya. 

“Mbah Hasyim Asy’ari itu hafal hadits-hadits, hafal kutubus sittah, hafal sak-rijalul haditsnya,” katanya pada pengajian bulanan yang digelar Lembaga Dakwah PBNU di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (26/12) malam. 

Dalam catatan KH Saifuddin Zuhri pada buku Berangkat dari Pesantren, KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai hadits di samping memiliki pemahaman yang luas dalam di bidang fiqih. Sehingga bagi Kiai Saifuddin, ia tergolong fuqaha. Namun, dalam bidang ilmu hadits KH Hasyim Asy’ari memiliki kecenderungan lebih. Ia sangat ahli.

Membaca hadits, kata Kiai Saifuddin, seperti wiridan (kebiasaan rutin) saja. Itulah yang kemudian ia memiliki tempat tersendiri di mata ulama-ulama Indonesia waktu itu. Sebab tentu saja, hadits merupakan sumber kedua hukum Islam setelah Al-Qur’an. 

Senada dengan Kiai Saifuddin, menurut Afriadi Putra pada Pemikiran Hadis KH M. Hasyim Asy’ari dan Kontribusinya terhadap Kajian Hadtis di Indonesia, Kiai Hasyim Asy’ari dalam bidang hadits memberikan pengaruh yang cukup besar di Indonesia pada masanya. Sebab kajian hadits belum begitu banyak waktu itu. Bahkan bisa dikatakan melalui kitabnya Risalah Ahlussunnah wal Jamaah berhasil meletakkan dasar-dasar kajian hadits dan solusi teologis bagi persoalan yang sedang dihadapi masyarakat

Melalui kitab itu juga, ia  telah berhasil memperkenalkan kajian hadis kepada umat Islam di Indonesia yang diambil lansgung dari kitab-kitab hadis primer, meskipun tidak semuanya.

Hadits telah mendarah daging pada kesehariannya. Terutama pada bulan Ramadhan. KH Hasyim Asy’ari memiliki kebiasaan membaca kitab hadits Sahih Bukhari, kitab yang berisi himpunan hadits Nabi sebanyak 7.275. Tradisi ini di kalangan pesantren disebut pasanan atau pasaran.  

Pada tiap Ramadhan, pengajian hadits KH Hasyim Asy’ari terkait kitab hadits itu para kiai dari berbagai pelosok negeri menyempatkan diri mondok selama sebulan. Mereka menyimak bacaan hadits Rais Akbar Nahdlatul Ulama itu. 

Namun anehnya, kata kiai yang akrab disapa Gus Muwafiq, belakangan NU sering dibully dikafir-kafirkan oleh orang yang bermodalkan satu hadits yaitu kullu bid’atin dlalalah. (Abdullah Alawi)